Jumat, 12 Mei 2017

Semoga Tuhan....ahh kebangetan

Orang membuat papan pengumuman (plang) pada umumnya bertujuan untuk memberikan informasi untuk diikuti oleh orang yang membaca sebagaimana yang diinformasikan di plang tersebut. Misalnya, "Maaf jalan ditutup, ada kegiatan", maka orang putar balik mencari jalan lain. Atau, "200 meter lagi sate pak kempleng", maka pengemudi mulai mengurangi kecepatan untuk bersiap-siap untuk berhenti. 


Tapi bagaimana jika papan pengumuman atau plang tersebut tidak dipatuhi. Seperti yang sering terjadi papan peringatan berupa larangan membuang sampah, "Dilarang membuang sampah di sini", tapi di sekitarnya berserakan sampah. Atau larangan buang air kecil, "dilarang kencing di sini" tapi bau pesing sangat tidak sedap tercium dari jarak yang cukup jauh. Tentu saja hal itu menyebabkan si pembuat papan pengumuman menjadi kesal atau marah. Peringatan itu dibuat tentu untuk kebaikan, ketertiban, kebersihan dan keindahan. Intinya untuk harmonisasi lingkungan. Namun sialnya, tempat itu sangat strategis untuk melakukan hal tersebut - membuang sampah atau buang air kecil. Maka pelanggaran terhadap peringatan itupun tak usai. Meskipun papan peringatan itu diperbesar, diperjelas, diperindah, diletakkan dengan posisi apapun, si pelanggar tetap saja melakukannya.



Di jaga setiap hari juga tidak mungkin, terlalu "lebay rasnya" harus menjaga tempat agar tidak dibuangi sampah. Jika dipikir rasanya sungguh menjengkelkan orang-orang yang membuang sampah di tempat yang jelas-jelas dilarang. Bayangkan anda di posisi orang yang memiliki area yang anda tidak ingin dibuangi sampah, tentu akan marah jika melihat orang dengan seenaknya membuang sampah. Meksipun sedikit, bungkusan kecil di dalam tas kresek, tinggal melempar saja. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit sampah yang tidak sedap dipandang maupun dibau.


Jika kejengkelan itu sudah memuncak, jika berbagai cara sudah dilakukan tapi tidak dihiraukan, dan jika kesabaran sudah habis, maka papan peringatan itupun bisa menjadi kejam. Memang, bukan kejam dalam fisik. Tetapi bisa jadi jauh lebih kejam dan sadis maknanya. Seperti yang terjadi di daerah Desa Tambaksawah, terdapat papan peringatan, "Semoga Tuhan mencabut nyawa orang yang membuang sampah di sini". Di tempat lain berjarak tidak lebih dari seratus meter adalagi yang berbunyi, "17 tahun sekolah tetap sajaj buang sampah sembarangan, belajar apa di sekolah".

Membaca tulisan tersebut, saya agak kepingin ketawa, tetapi juga prihatin. Betapa masyarakat kita ini sangat joroknya, sangat rendahnya peradabannya, sangat egoisnya, sehingga untuk melakukan kebaikan saja harus dipaksa. Bahkan bila perlu diancam, seperti bunyi peringatan tersebut. Dalam bahasa yang lebih vulgar bisa jadi maksud tulisan tersebut adalah,"siapa yang membuang sampah di sini semoga ketabrak sepur". Sangat kasar dan tidak berada, memang cocok untuk orang-orang yang kurang beradab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar