Sabtu, 19 Oktober 2019

Lama Tidak Dibuka

Segala sesuatu kalau lama tidak dibuka, lama tidak digunakan, maka ketika tiba-tiba harus menggunakan akan mengalamai kesulitan. Misalnya, kendaraan kalo lama tidak dikendarai menjadi rusak, ketika akan dinyalakan pasti sulit atau bahkan tidak bisa menyala. Baut saja kalao lama tidak bisentuh, akan karatan / neyeng, sehingga sulit dibuka.

Ini yang saya alami hari ini. Blog ini lama tidak saya buka, sampai-sampai namanya, judulnya, saya lupa sehingga cukup lama untuk mengingat agar bisa masuk. Selain lupa cara masuknya, username dan passwordnya, ada banyak hal baru dalam fitur blog ini, juga aturan-aturan baru yang membuat saya harus membacanya pelan-pelan dan berulang-ulang.

Masih tetap bermasalah, maksud saya ada pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan aturan baru ini, diantaranya : kenapa kok saya harus masuk dengan akun toyvic.com? Tapi setiap masuk menggunakan akun email ini yang keluar blog yang lebih lama lagi yang sudah tidak aktif. Dan ketikak saya masuk menggunakan akun email stykonstanta.com - akun yang masih aktif - masuk ke blog dengan status seolah-olah _nunut_ atau pinjamg tempat.

Setidaknya bisa ketemu dengan blog saya lagi, meskipun mungkin harus belajar-belajar lagi


Jumat, 12 Mei 2017

Semoga Tuhan....ahh kebangetan

Orang membuat papan pengumuman (plang) pada umumnya bertujuan untuk memberikan informasi untuk diikuti oleh orang yang membaca sebagaimana yang diinformasikan di plang tersebut. Misalnya, "Maaf jalan ditutup, ada kegiatan", maka orang putar balik mencari jalan lain. Atau, "200 meter lagi sate pak kempleng", maka pengemudi mulai mengurangi kecepatan untuk bersiap-siap untuk berhenti. 


Tapi bagaimana jika papan pengumuman atau plang tersebut tidak dipatuhi. Seperti yang sering terjadi papan peringatan berupa larangan membuang sampah, "Dilarang membuang sampah di sini", tapi di sekitarnya berserakan sampah. Atau larangan buang air kecil, "dilarang kencing di sini" tapi bau pesing sangat tidak sedap tercium dari jarak yang cukup jauh. Tentu saja hal itu menyebabkan si pembuat papan pengumuman menjadi kesal atau marah. Peringatan itu dibuat tentu untuk kebaikan, ketertiban, kebersihan dan keindahan. Intinya untuk harmonisasi lingkungan. Namun sialnya, tempat itu sangat strategis untuk melakukan hal tersebut - membuang sampah atau buang air kecil. Maka pelanggaran terhadap peringatan itupun tak usai. Meskipun papan peringatan itu diperbesar, diperjelas, diperindah, diletakkan dengan posisi apapun, si pelanggar tetap saja melakukannya.



Di jaga setiap hari juga tidak mungkin, terlalu "lebay rasnya" harus menjaga tempat agar tidak dibuangi sampah. Jika dipikir rasanya sungguh menjengkelkan orang-orang yang membuang sampah di tempat yang jelas-jelas dilarang. Bayangkan anda di posisi orang yang memiliki area yang anda tidak ingin dibuangi sampah, tentu akan marah jika melihat orang dengan seenaknya membuang sampah. Meksipun sedikit, bungkusan kecil di dalam tas kresek, tinggal melempar saja. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit sampah yang tidak sedap dipandang maupun dibau.


Jika kejengkelan itu sudah memuncak, jika berbagai cara sudah dilakukan tapi tidak dihiraukan, dan jika kesabaran sudah habis, maka papan peringatan itupun bisa menjadi kejam. Memang, bukan kejam dalam fisik. Tetapi bisa jadi jauh lebih kejam dan sadis maknanya. Seperti yang terjadi di daerah Desa Tambaksawah, terdapat papan peringatan, "Semoga Tuhan mencabut nyawa orang yang membuang sampah di sini". Di tempat lain berjarak tidak lebih dari seratus meter adalagi yang berbunyi, "17 tahun sekolah tetap sajaj buang sampah sembarangan, belajar apa di sekolah".

Membaca tulisan tersebut, saya agak kepingin ketawa, tetapi juga prihatin. Betapa masyarakat kita ini sangat joroknya, sangat rendahnya peradabannya, sangat egoisnya, sehingga untuk melakukan kebaikan saja harus dipaksa. Bahkan bila perlu diancam, seperti bunyi peringatan tersebut. Dalam bahasa yang lebih vulgar bisa jadi maksud tulisan tersebut adalah,"siapa yang membuang sampah di sini semoga ketabrak sepur". Sangat kasar dan tidak berada, memang cocok untuk orang-orang yang kurang beradab.


Rabu, 03 Mei 2017

Kejepit : wouw

Pernahkan anda kejepit retsleting?. Tidak usah menginginkan itu, sakit sekali. Apalagi jika hal itu terjadi di leher, rasanya tidak hanya sakit. Apalagi jika itu terjadi dalam keadaan sedang di atas motor, selain sakit, bingung. Apalagi jika retsletingnya macet, tidak hanya sakit dan bingung, panik.
Hal itu saya alami tadi pagi saat berkendaraan motor. Seperti biasa tiap pagi mengendarai sepeda motor dengan perlengkapan lengkap - sesuai anjuran pak polisi - helm standar, jaket, bersepatu, dan kacamata.
Pada saat melintas di jalan raya juanda, saya merasakan udara semakin dingin. Maka saya berusaha menaikkan retsleting jaket sampai ke atas, hingga menutup seluruh leher. Karena motor harus tetap melaju, saya menarik retsleting hanya dengan satu tangan (kiri). Begitu saya tarik, tepat dijakun macet dan menjepit sebagian kulit leher, "suakkitt".
Saat itu lalu lintas cukup ramai dan kendaraan cenderung cepat. Saya berusaha menjaga laju motor, dan berusaha pula menurunkan kembali retsleting. Tapi setiap akan saya tarik ke bawah, tambah sakit. Bingung, dibiarkan sakit, ditarik ke bawah sakit, apalagi dipaksa ke atas, bisa-bisa cuwil.
Ternyata hanya satu yang diperlukan, ketenangan. Setelah berusaha tenang dan menguasai keadaan, perlahan-lahan retsleting saya turunkan, ternyata mudah dan tidak lagi sakit.
Saran saya, tidak usah memilih kejepit retsleting, pisshh!!

Bernyanyi

Bernyanyi itu menyenangkan, atau salah satu ciri orang ketika senang adalah dengan menyanyikan lagu. Lebih jauh lagi, jika dalam menyanyikan lagu cukup baik, tidak hanya diri sendiri yang merasa senang, tetapi juga orang lain yang mendengarkan.
Jaman sekarang kegiatan menyanyi dan menikmati lagu dilakukan hampir semua orang, setidaknya / minimal mendengarkan lagu melalui gagdet. Mereka yang lebih aktif mendengarkan lagu - melalui headset - sambil bernyanyi mengikuti lagi (telingannya diseumpeli terus nyanyi2 sendiri tidak menghiraukan sekeliling).
Saat ini ada banyak media atau cara orang dalam menyalurkan hasratnya bernyanyi, misalnya ; tempat karaoke, melalui hp, di panggung resepsi kemanten. Ditinjau dari tujuannya bernyanyi (khususnya di panggung manten) ada beberapa jenis orang menyanyi, diantaranya :
1) Menyanyi untuk menasehati. Biasanya dilakukian oleh orang tua (maksudnya yang sudah tua atau dituakan). Sedangkan lagu yang dibawakan lagu-lagu yang berisi nasehat, seperti lagunya chrisye (Damai bersamamu), atau lagu2nya Ebiet G Ade, atau lagu2 religi milik opik atau lagu rohani yang lain.
2) Menyanyi untuk menghibur. Biasanya yang menyanyi orang yang hafal banyak lagu (meskipun masih amatir), sehingga bisa membaca situasi lagu apa yang pantas / cocok dinyanyikan. Lagu yang dibawakan biasanya lagu2 yang masih nge-hit baik dangdut maupun pop, tergantung selera pendengar.
3) Menyanyi untuk aktualisasi diri. Biasanya dilakukan oleh anak2 yang masih SMA, SMP atau mungkin SD. Mereka dalam masa perkembangan sehingga ingin mencoba segalanya termasuk tampil di panggung mantenan. Lagu yang dibawakan tidak mempedulikan selera pendengar, tetapi sesuai yang dikuasai, yang paling bisa dilakukan dengan harapan mendapat sambutan besar.
4) Menyanyi untuk menyelamatkan diri. Ini dilakukan karena sebuah rombongan mantenan belum diperkenankan pulang jika belum ada yang mewakili menyanyi. Maka mau tidak mau, harus ada salah satu yang menjadi phlawan/korban untuk menyelamatkan rombongan, biar bisa segera pulang.
Agak kacau, tapi itu faktual. Lain kali jangan mau kalau dipaksa bernyanyi. Lebih baik langsung saja meminta untuk maju menyanyi dari pada ditunjuk, dipanggil berulang-ulang, disebut berkali-kali.

Semar

"Mbeg gegeg ugeg-ugeg mhel-mhel sadulito". Kalimat - latah - itu sering diucapkan 'Semar', ketika mendapat kesan tertentu pada suatu kejadian, seperti : kaget, senang, atau prihatin. Semar, orang bijak (dalam tokoh pewayangan) jelmaan Dewa yang mempunyai misi meluruskan jalannya para kesatria (di bumi) yang cenderung melenceng ketika memperoleh kejayaan.
Biasanya, Semar hanya diam ketika orang-orang sedang ramai berbicara. Tidak peduli apa yang mereka bicarakan, Semar hanya diam. Namun dengan ketajaman pikirannya (kewaskitaannya) tidak satupun pembicaraan orang-orang itu yang luput dari perhatiannya. Dalam diamnya ia menangkap, memahami, menganalisis, dan menilai apa dan kemana arah pikiran orang tersebut.
Baru, ketika disebut namanya untuk dimintai pendapat, Semar akan - selalu - memulai dengan kalimat "mbeg gegeg ugeg-ugeg mhel-mhel sadulito". Kalimat itu berisikan motivasi dan harapan untuk semua orang di sekitarnya. Arti kalimat tersebut adalah "mbeg gegeg" semacam perintah untuk bergerak, yang memiliki makna menyuruh orang untuk berupaya, berikhtiar dalam hidup. Kemudian "ugeg ugeg" dalam bahasa lain mungkin "ketahwil kethawil", artinya meskipun sepele, sederhana, sebisanya, atau semampunya. "mhel mhel" adalah makanan, bermakna rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup. "Sadulito" artinya sedikit.
Sehingga secara keseluruhan makna kalimat tersebut adalah perintah atau anjuran kepada manusia untuk selalu berupaya, melakukan perjuangan (jihad) dalam hidup aapun bentuknya untuk mendapatkan berkah dari Tuhan, yang pasti Tuhan akan memberikan meskipun sedikit, tergantung dari upaya yang dilakukan.
Dengan kata lain, bila dinegasikan, janganlah kamu berharap mendapatkan sesuatu sedangkan kamu tidak melakukan apa-apa. Tuhan / Jawoto kang murbeng dumadi itu Maha Kasih dan Sayang, tapi janganlah manusia sombong dan menjadi pemalas.

Seri : Ngono yo Ngono ning Ojo Ngono

"ngono yo ngono ngona ngono ning ojo ngono", kalimat itu tersirat dalam lirik lagu yang dipopulerkan oleh Edy Silitonga di tahun 80-an. Kalimat dalam bahasa jawa, tetapi dengan fasih dilantunkan oleh sang penyanyi yang bersala dari kultur budaya batak.
Lagu itu berkisah tentang seseorang yang sedang kasmaran atau jatuh cinta. Begitu besar rasa cintanya sehingga seolah bagian dari dirinya ada yang hilang, karena dicuri oleh seseorang (pencuri). Membuat perasaannya senantiasa tidak tenag dan tidak enak, bagian yang tercuri itu adalah hati.
Begitu gundahnya karena hatinya dicuri, ia melaporkan kepada orang tuanya (bapaknya), dengan kalimat "pak, ada pencuri". Tentu saja bapaknya gelagapan dan bersiap menangkap dan menghukum si pencuri. Tapi dihalangi oleh sang anak untuk tidak menghukum pencuri, "kenapa", karena pencurinya itu cantik jelita. "apa yang dicuri". Sampai disitu ia menjawab dengan agak mbulet "ini yang menggantung di dada", sang bapak bertanya penasaran "apa maksudnya?", "ini pak hati saya yang di bawa pergi".
Maka "oalahhh le le...ngono yo ngono ning ojo ngono". Maksudnya, meskipun jatuh cinta (itu boleh) tapi yang wajar, jangan membuat bapak ikutan bingung.
Ungkapan kalimat itu 'jawa banget', maksudnya kalimat itu tidak sembarangan diucapkan. Pernyataan sangat bernilai budaya (jawa) yang penuh kebijaksanaan. Memahami kalimat itu harus cermat dan hati-hati, terlebih mengucapkannya. Karena kalimat itu berada wilayah yang sangat tipis antara dibolehkan dan tidak dibolehkan. Sehingga memeberikan pernyataan itu pada suatu kejadian memiliki beban moral yang masif.
Mengucapkan kalimat itu, memiliki beban moral untuk mengawal hingga ada kepastian hasil akhir dari kejadian tersebut baik. Seperti kalimat dalam lagu "Romo ono maling" di atas. Sang bapak memaklumi anaknya yang sedang jatuh cinta, sehingga diijinkan. Secara tersirat ada pesan untuk sang anak "hati-hati bisa sedang jatuh cinta".
Bijaksanalah dengan ungkapan "Ngono yo Ngono Ning Ojo Ngono".

Salam : Kawan Lama

Kemarin sore saya iseng men-chat lewat whatsapp kawan lama. Benar. Kawan yang sudah lama sekali, kebetulan saya masih menyimpan nomernya, dan ternyata WA nya aktif. Kemudian saya buka dan saya tulis singkat "haloo...". Saya tidak yakin itu akan nyambung, dan akan mendapat respon. Karena, yang sering terjadi ketika menghubungi nomer2 kawan yang sudah lama tidak berhubungan biasanya gagal / sudah mati.
Ternyata malam hari mendapat respon yang cukup hangat dan antusias. Nampaknya dia senang, bisa saling mengabarkan keadaan dengan kawan yang sudah 20 tahunan yang lalu. Dia menanyakan apa masih menekuni kegiatan yang dulu bersama-sama kita ikuti, yang bersama-sama aktif di dalamnya. Dia sekarang berada jauh di pulau seberang, yang di sana tidak ada kegiatan seperti dulu diikuti. Dia mengistilahkan, "aku ngarit...nggolek suket" sambil ketawa. Saya tahu itu hanya metafora atau kiasan bahwa dia berwirausaha di tempat yang baru. Saya tahu, dia bukan hanya badannya yang besar, tapi saya juga yakin dia juga kontraktor besar.
Selamat berjuang kawan. Bushido!