Sabtu, 08 November 2014

Guyonan Orang Desa

"di panidi ojo lewat dhisik to, engko udan lho", tegur Jasemi pada Panidi.
"walah....mosok ngono to yu..."
"wong lewat ae kok marakno iso udan", jawab Panidi datar agak kurang paham dengan maksud Jasemi.
"awit winginane tak titeni, angger kowe liwat, mendhunge langsung peteng, repet2 terus udan", Jasemi menerangkan maksudnya.
"oooalaa...yu yu opo aku iki moloikat opo piye, kok iso nekakno udan", Panidi sedikit membela guyonan Jasemi.

Jasemi bermaksud menggoda Panidi yang hilir mudik setiap hari di depan rumahnya dengan bersepeda. Sedangkan Jasemi sedang mempunyai tanggungan menjemur padi sampai benar-benar kering sebelum di bawa ke tukang slep padi. Aktivitas biasa yang dilakukan orang-orang desa ketika musim panen padi. Setelah padi dipanen dari sawah di jemur dan harus ditunggui, dieker-eker biar keringnya merata, karena pada musim seperti ini biasanya sinar matahari mahal, belum genap jam dua belas siang sudah mendung dan hujan. Oleh karena itu menjemur padipun tidak bisa dianggap remeh, harus fokus nungguin padi supaya keringnya maksimal. Hal itulah yang membuat Jasemi tidak bisa meninggalkan padinya begitu saja, setiap satu jam harus dieker-eker, dijaga biar tidak dienjah-enjah kambing, tidak dicucuki ayam, dan yang pasti tidak kehujanan. Hal terakhir itulah yang membuat Jasemi jengkel, karena tiga hari terkahir selalu hujan sebelum tengah hari, dan selalu dengan didahului oleh lewatnya Panidi di depan rumah.

Seorang Pahlawan

Jo duduk disamping tempat tidur putrinya yang terbaring tak sadarkan diri. Putrinya, yang sudah bukan anak-anak lagi mengalami tindak kekerasan dari sekelompok orang yang berniat jahat kepadanya. Ia berusaha melawan sekuat tenaga meskipun harus berhadapan dengan sejumlah laki-laki kasar dan beringas. Beruntung ayahnya - Jo - segera datang dan menyelamatkannya. Meskipun demikian ia harus mengalami luka-luka dan cedera di beberapa bagian tubuh yang lumayan parah serta tak sadarkan diri. Beberapa kawan ayahnya segera membawa ke rumah sakit, dan Jo berusaha mengejar kawanan penjahat tersebut.

Jo adalah seorang detektif dari lembaga kepolisian. Sudah menjadi tugasnya sehari-hari untuk menyelidiki, mencari informasi dan menangkap penjahat. Karena tugasnya yang berat - polisi yang sangat berdedikasi ini - Jo tidak mempunyai banyak waktu untuk keluarga. Putri satu-satunya sejak kecil sering ditinggalkan, demikian halnya istrinya yang setia, jarang punya waktu luang untuk berbincang-dan berdiskusi berbagai hal termasuk tentang masa depan diri dan keluarganya. Meskipun demikian ia selalu mendapati keluarganya selalu dalam keadaan baik baik. Setiap ia pergi dari rumah, maupun ketika pulang ke rumah yang selalu ia temui  istri dan anak-anaknya selalu baik baik saja.

Hingga suatu hari putrinya menjadi sasaran kejahatan, imbas dari profesi ayahnya. Beruntung Jo berhasil mengendus niat para penjahat tersebut dan menggagalkanya, meskipun harus dibayar dengan derita fisik yang dialami putrinya. Saat itu menjadi kesempatan - momentum yang tepat - bagi Jo untuk menyadari betapa penting arti sebuah keluarga, betapa berharganya seorang anak, betapa mulianya seorang istri. Jo berjanji tidak akan membiarkan anak dan istrinya mendapatkan bahaya. Untuk menegaskan komitmennya tersebut Jo menungggui anaknya yang masih belum pulih dari ketidaksadarannya hampir sepanjang malam. Ia ingin memastikan ketika anaknya terbangun dirinyalah yang dilihat petama kali, sehingga putrinya merasa aman.

Jo seorang polis yang baik, seorang detektif yang berprestasi, dia selalu bekerja dengan tangkas sesuai prosedur. Secara karir Jo tidak mengecewakan dan dia tidak merasa ada kekurangan, dia merasakan hal itu. Tetapi saat ini dia merasakan memiliki banyak kekurangan, terutama di hadapan anak dan istrinya. Dia merasa dirinya seorang yang sangat lemah justru di hadapan dua makhluk wanita yang lemah. Jo melihat betapa istri dan anaknya adalah sosok manusia yang tangguh, yang tabah dan sabar. Jo tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa memandangi saja bergantian antara istrinya dan anaknya. Beberapa kali istrinya menenangkannya dengan mengatakan, 
"sudahlah Jo kami tidak apa-apa, kamu tetaplah seorang ayah yang baik",
"kamu tetaplah pahlawan bagi keluarga ini",
"tenangkan dirimu, tetap laksanakan tugasmu".
 Setiap kata-kata yang keluar dari bibir istrinya hanya dibalas dengan tetesan air mata. Jo tidak habis pikir dalam keadaan yang berat seperti ini, istrinya masih mampu membesarkan hatinya, sedangkan dia sendiri seperti remuk jiwanya. Jo yang selalu perkasa dalam melawan setiap penjahat, malam itu menjadi sosok yang sangat rapuh dan tidak berdaya. Satu-satunya kekuatan yang mampu menopang badannya yang sudah hampir 60 tahun itu adalah kekuatan dari istrinya yang setia, dan putrinya yang masih lelap dalam ketidaksadaran diri.