Malam ini, pada saat saya berangkat menuju tempat mengajar, saya bertemu dengan dua pengendara motor yang bermasalah. Mereka terpaksa 'nuntun' kendaraaannya karena kerusakan yang terjadi pada motornya tidak memungkinkan untuk terus dinaiki.
Kejadian yang pertama di jalan juanda - jalan raya yang ramai kendaraan - dimana di jalur itu tidak akan ditemui bengkel. Sepintas terlihat lampu motor itu menyala sementara pemiliknya nuntun, berarti mesin motornya tidak bermasalah, bensin ada. Kesimpulannya, yang bermasalah adalah bannya - bocor - sehingga jika dipaksa dinaiki akan berbahaya.
Kejadian kedua, di jalan A yani yang mengarah ke Sidoarjo setlah Aloha. Juga jalan raya yang padat - jalur cepat - tidak mungkin ada bengkel. Kelihatannya yang bermasalah mesinnya atau bensinnya yang habis, karena tidak terlihat mesinnya menyala, mogok.
Sekilas terlihat - meskipun tidak begitu jelas - wajah yang gundah bercampur lelah, tetapi belum sampai putus asa. Setidaknya masih punya harapan, untuk melakukan sesuatu - mungkin ada tujuan yang penting - sehingga meskipun rautnya tidak tampak gembira, tetapi tetap penuh harap apa yang akan dilakukan akan kesampaian. Berbeda dengan kejadian motor yang kedua - ada dua orang pengendara dan pembonceng - si pengendara kelihatan lelah dan agak marah, sementara pembonceng yang berbadan kurus tampak lemas, berjalan gontai, dan kelihatan sangat tidak bersemangat untuk meneruskan perjalanan.
Kejadian seperti itu, jamak terjadi di perjalanan, dan banyak terjadi pada siapa saja. Bukan sesuatu yang luar biasa, namun semua orang pasti tidak berharap hal itu terjadi. Sebuah hambatan atau rintangan kecil, tidak membahayakan dan tidak krusial. Tetapi justru biasanya terasa lebih menjengkelkan daripada kejadian hambatan lain yang lebih serius, misalnya, kecelakaan ringan. Orang yang amengalami kecelakaan - meskipun itu juga sangat tidak diinginkan - terasa tidak lebih menjengkelkan daripada motor mogok atau ban 'gembos'. Mengapa begitu?
Orang yang mengalami motor mogok atau ban bocor, cenderung merasa bodoh, mengapa hal itu sampai bisa terjadi.. Tidakkah seharusnya motor dirawat secara baik, sehingga motor selalu dalam keadaan baik dan aman. Tidakkah seharusnya selalu tersedia uang untuk biaya perawatan sehingga motor tidak sampai mogok. Sehingga orang yang mengalami ini biasanya selain merasa bodoh juga merasa malu dan bersalah, ditambah lagi kesialan seperti ini tidak membuat orang lain berempati, tetapi justru cenderung mengolok. Berbeda dengan orang yang kecelakaan di jalan, meskipun terkadang hanya kecelakaan kecil, yang berempati dan membantu cukup banyak. Dan, semua akan memaklumi, bahkan beramai-ramai mem\bengok ke rumah ataupun ke rumash sakir - bila dirawat inap.
Sebenarnya bukan masalah ada bantuan apa tidak, bukan masalah bodoh dan tidaknya atau sual apa tidaknya, tetapi siap apa tidak jika kita suatu saat akan menemuai sebuah rintangan di perjalanan.Karena setiap perjalanan atau laku pasti ada gangguannya, ada hambatannya, terjadi ketidaksimbangan-ketidakseimbangan. dan, kesiapan kita dalam menghadapi hal itu akan penting untuk bisa segerai menyeimbangkan kembali kondisi itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar