Selasa, 23 September 2014

Menunda Kehendak

Saya mempunyai seorang pimpinan di satuan kerja saya, yang selalu memberikan nasehat - terutama - kepada murid begini,
"kalian tidak akn sukses jika hidup kalian saat ini hanya untuk bersenang-senang mengikuti kemauan diri, enak-enakan, main hape, nonton tv, cangkrukan".
"kunci sukses seseorang adalah apabila ia mampu menunda kehendak, sudah terbukti dan ada banyak contoh orang-orang yang hidupnya kini sukses adalah orang yang dulunya ketika masih muda, menunda kehendak, menahan diri dari cara hidup yang foya-foya, hidup dalam kesederhanaan dan bahkan keterbatasan".
Itu adalah statement favorit dari bos saya - yang sampai saat ini masih eksis - di setiap kesempatan pertemuan, rapat ataupun upacara. Dia selalu mengatakan - maksudnya memotivasi tapi kesannya menggurui - agar semua guru dan karyawan tidak hanya menuntut hak, tetapi sebisa mungkin menahan diri, bila perlu prihatin - bermiskin diri - agar nanti di kemudian hari mendapatkan rejeki yang berkelimpahan.
Konsep yang beliau sampaikan seratus persen adalah benar, karena memang begitulah ajaran Tuhan, bahwa manusia harus menahan diri, harus pandai berpuasa - agama apapun mengenal konsep puasa. Hanya saja, karena cara beliau membawakan diri dan menyampaikan nasehatnya, sama sekali bukan sebagai sosok yang pandai menahan diri dan menunda kehendak, akibatnya apa yang disampaikan cenderung di kesampingkan oleh anak buah dan murid-muridnya.
Puasa atau menahan diri, ataupun menunda kehendak, adalah etos diri seseorang yang harus selalu dibawakan pada setiap kesempatan. Menunda kehendak bukan saja, tidak bermain hape saat ini, tidak nonto tv sekarang, tidak pergi ke mall saat ini, tetapi menahan untuk tidak melakukan sesuatu yang berlebihan yang tujuannya untuk memuaskan diri dan melupakan kewajiban utama mereka. Disamping itu konsep menunda kehendak bukan terikat oleh waktu. Ketika masih muda - sekolah - tidak melakukan sesuatu yang bersifat menyenangkan, tetapi begitu sudah bekerja dan menjadi pejabat etos menunda kehendak sudah tidak lagi berlaku untuk dirinya, tidak demikian. Etos menunda kehendak berlaku untuk semua orang semua umur dan semua keadaaan, meskipun telah menjadi pejabat, maka menunda kehendak justru hal yang utama. Oleh karena itu teman-teman saya sering bergurau merespon ceramah bos dengan mengatakan,
"kalau masih menjadi karyawan kita harus menunda kehendak, tapi kalau nanti sudah menjadi pimpinan seperti dia tidak perlu lagi....sudah lewat masanya menahan kehendak".
Selain itu, menunda kehendak tidak identik dengan menolak rasa senang. Setiap orang berhak atas rasa senang, bahkan sebagian psikolog menganjurkan untuk merayakan setiap ada keberhasilan yang dicapai. Karena rasa senang adalah gejala psiokologis yang normal pada setiap orang, dan itu tidak boleh ditekan apalagi dihilangkan, tetapi cukup dikendalikan. Nikmati rasa senangmu seperlunya, agar ketika sedih tidak berlarut-larut. Sebaliknya, bersedihlah seperlunya, dan segeralah bangkit untuk menatap hari esok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar