Rabu, 03 Mei 2017

Bernyanyi

Bernyanyi itu menyenangkan, atau salah satu ciri orang ketika senang adalah dengan menyanyikan lagu. Lebih jauh lagi, jika dalam menyanyikan lagu cukup baik, tidak hanya diri sendiri yang merasa senang, tetapi juga orang lain yang mendengarkan.
Jaman sekarang kegiatan menyanyi dan menikmati lagu dilakukan hampir semua orang, setidaknya / minimal mendengarkan lagu melalui gagdet. Mereka yang lebih aktif mendengarkan lagu - melalui headset - sambil bernyanyi mengikuti lagi (telingannya diseumpeli terus nyanyi2 sendiri tidak menghiraukan sekeliling).
Saat ini ada banyak media atau cara orang dalam menyalurkan hasratnya bernyanyi, misalnya ; tempat karaoke, melalui hp, di panggung resepsi kemanten. Ditinjau dari tujuannya bernyanyi (khususnya di panggung manten) ada beberapa jenis orang menyanyi, diantaranya :
1) Menyanyi untuk menasehati. Biasanya dilakukian oleh orang tua (maksudnya yang sudah tua atau dituakan). Sedangkan lagu yang dibawakan lagu-lagu yang berisi nasehat, seperti lagunya chrisye (Damai bersamamu), atau lagu2nya Ebiet G Ade, atau lagu2 religi milik opik atau lagu rohani yang lain.
2) Menyanyi untuk menghibur. Biasanya yang menyanyi orang yang hafal banyak lagu (meskipun masih amatir), sehingga bisa membaca situasi lagu apa yang pantas / cocok dinyanyikan. Lagu yang dibawakan biasanya lagu2 yang masih nge-hit baik dangdut maupun pop, tergantung selera pendengar.
3) Menyanyi untuk aktualisasi diri. Biasanya dilakukan oleh anak2 yang masih SMA, SMP atau mungkin SD. Mereka dalam masa perkembangan sehingga ingin mencoba segalanya termasuk tampil di panggung mantenan. Lagu yang dibawakan tidak mempedulikan selera pendengar, tetapi sesuai yang dikuasai, yang paling bisa dilakukan dengan harapan mendapat sambutan besar.
4) Menyanyi untuk menyelamatkan diri. Ini dilakukan karena sebuah rombongan mantenan belum diperkenankan pulang jika belum ada yang mewakili menyanyi. Maka mau tidak mau, harus ada salah satu yang menjadi phlawan/korban untuk menyelamatkan rombongan, biar bisa segera pulang.
Agak kacau, tapi itu faktual. Lain kali jangan mau kalau dipaksa bernyanyi. Lebih baik langsung saja meminta untuk maju menyanyi dari pada ditunjuk, dipanggil berulang-ulang, disebut berkali-kali.

Semar

"Mbeg gegeg ugeg-ugeg mhel-mhel sadulito". Kalimat - latah - itu sering diucapkan 'Semar', ketika mendapat kesan tertentu pada suatu kejadian, seperti : kaget, senang, atau prihatin. Semar, orang bijak (dalam tokoh pewayangan) jelmaan Dewa yang mempunyai misi meluruskan jalannya para kesatria (di bumi) yang cenderung melenceng ketika memperoleh kejayaan.
Biasanya, Semar hanya diam ketika orang-orang sedang ramai berbicara. Tidak peduli apa yang mereka bicarakan, Semar hanya diam. Namun dengan ketajaman pikirannya (kewaskitaannya) tidak satupun pembicaraan orang-orang itu yang luput dari perhatiannya. Dalam diamnya ia menangkap, memahami, menganalisis, dan menilai apa dan kemana arah pikiran orang tersebut.
Baru, ketika disebut namanya untuk dimintai pendapat, Semar akan - selalu - memulai dengan kalimat "mbeg gegeg ugeg-ugeg mhel-mhel sadulito". Kalimat itu berisikan motivasi dan harapan untuk semua orang di sekitarnya. Arti kalimat tersebut adalah "mbeg gegeg" semacam perintah untuk bergerak, yang memiliki makna menyuruh orang untuk berupaya, berikhtiar dalam hidup. Kemudian "ugeg ugeg" dalam bahasa lain mungkin "ketahwil kethawil", artinya meskipun sepele, sederhana, sebisanya, atau semampunya. "mhel mhel" adalah makanan, bermakna rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup. "Sadulito" artinya sedikit.
Sehingga secara keseluruhan makna kalimat tersebut adalah perintah atau anjuran kepada manusia untuk selalu berupaya, melakukan perjuangan (jihad) dalam hidup aapun bentuknya untuk mendapatkan berkah dari Tuhan, yang pasti Tuhan akan memberikan meskipun sedikit, tergantung dari upaya yang dilakukan.
Dengan kata lain, bila dinegasikan, janganlah kamu berharap mendapatkan sesuatu sedangkan kamu tidak melakukan apa-apa. Tuhan / Jawoto kang murbeng dumadi itu Maha Kasih dan Sayang, tapi janganlah manusia sombong dan menjadi pemalas.

Seri : Ngono yo Ngono ning Ojo Ngono

"ngono yo ngono ngona ngono ning ojo ngono", kalimat itu tersirat dalam lirik lagu yang dipopulerkan oleh Edy Silitonga di tahun 80-an. Kalimat dalam bahasa jawa, tetapi dengan fasih dilantunkan oleh sang penyanyi yang bersala dari kultur budaya batak.
Lagu itu berkisah tentang seseorang yang sedang kasmaran atau jatuh cinta. Begitu besar rasa cintanya sehingga seolah bagian dari dirinya ada yang hilang, karena dicuri oleh seseorang (pencuri). Membuat perasaannya senantiasa tidak tenag dan tidak enak, bagian yang tercuri itu adalah hati.
Begitu gundahnya karena hatinya dicuri, ia melaporkan kepada orang tuanya (bapaknya), dengan kalimat "pak, ada pencuri". Tentu saja bapaknya gelagapan dan bersiap menangkap dan menghukum si pencuri. Tapi dihalangi oleh sang anak untuk tidak menghukum pencuri, "kenapa", karena pencurinya itu cantik jelita. "apa yang dicuri". Sampai disitu ia menjawab dengan agak mbulet "ini yang menggantung di dada", sang bapak bertanya penasaran "apa maksudnya?", "ini pak hati saya yang di bawa pergi".
Maka "oalahhh le le...ngono yo ngono ning ojo ngono". Maksudnya, meskipun jatuh cinta (itu boleh) tapi yang wajar, jangan membuat bapak ikutan bingung.
Ungkapan kalimat itu 'jawa banget', maksudnya kalimat itu tidak sembarangan diucapkan. Pernyataan sangat bernilai budaya (jawa) yang penuh kebijaksanaan. Memahami kalimat itu harus cermat dan hati-hati, terlebih mengucapkannya. Karena kalimat itu berada wilayah yang sangat tipis antara dibolehkan dan tidak dibolehkan. Sehingga memeberikan pernyataan itu pada suatu kejadian memiliki beban moral yang masif.
Mengucapkan kalimat itu, memiliki beban moral untuk mengawal hingga ada kepastian hasil akhir dari kejadian tersebut baik. Seperti kalimat dalam lagu "Romo ono maling" di atas. Sang bapak memaklumi anaknya yang sedang jatuh cinta, sehingga diijinkan. Secara tersirat ada pesan untuk sang anak "hati-hati bisa sedang jatuh cinta".
Bijaksanalah dengan ungkapan "Ngono yo Ngono Ning Ojo Ngono".

Salam : Kawan Lama

Kemarin sore saya iseng men-chat lewat whatsapp kawan lama. Benar. Kawan yang sudah lama sekali, kebetulan saya masih menyimpan nomernya, dan ternyata WA nya aktif. Kemudian saya buka dan saya tulis singkat "haloo...". Saya tidak yakin itu akan nyambung, dan akan mendapat respon. Karena, yang sering terjadi ketika menghubungi nomer2 kawan yang sudah lama tidak berhubungan biasanya gagal / sudah mati.
Ternyata malam hari mendapat respon yang cukup hangat dan antusias. Nampaknya dia senang, bisa saling mengabarkan keadaan dengan kawan yang sudah 20 tahunan yang lalu. Dia menanyakan apa masih menekuni kegiatan yang dulu bersama-sama kita ikuti, yang bersama-sama aktif di dalamnya. Dia sekarang berada jauh di pulau seberang, yang di sana tidak ada kegiatan seperti dulu diikuti. Dia mengistilahkan, "aku ngarit...nggolek suket" sambil ketawa. Saya tahu itu hanya metafora atau kiasan bahwa dia berwirausaha di tempat yang baru. Saya tahu, dia bukan hanya badannya yang besar, tapi saya juga yakin dia juga kontraktor besar.
Selamat berjuang kawan. Bushido!

Memohonlah

Hujan itu tinggal rintik2 saja, maka saya putuskan tidak memakai jas hujan. Setelah berjalan kira2 lima menit saya merasa kok gerimis ini tidak berkurang, sehingga mulai mempertimbangkan untuk berhenti.
Ketika saya hendak menghentikan motor kok saya merasa gerimis mulai berkurang, maka saya tidak jadi berhenti. Saya lanjutkan perjalananan, saya amati ada juga beberapa pengendara yang juga tidak memakai jas hujan. Tapi hal itu berulang beberapa kali, setiap gerimis terasa lebih kerap saya hendak berhenti. Tapi setiap akan berhenti, seolah-olah gerimis akan berhenti.
Hingga akhirnya, gerimis benar2 terasa semakin deras dan jalan lebih basah, maka dengan yakin saya berhenti untuk mengenakan jasa hujan. Dengan penuh percaya diri saya kenakan jas hujan hendak menerjang gerimis ke arah Juanda. Belum jauh saya melaju tapi gerimis intensitasnya semakin berkurang. Saya mulai tidak enak hati, lebih2 sudah mulai terasa panas / ongkep.
Akhirnya kekhawatiran saya terjadi, gerimis sudah berhenti, hanya jalanan masih agak basah. Begitu memasuki jalan juanda jalan sama sekali keringing, tapi saya masih PD mengenakan jas hujan.
Selalu begini, setiap kita terlalu yakin dengan prediksi kita yang terjadi justru kebalikannya. Saya merasa yakin hujan hari ini merata, dengan kondisi awan yang begitu rendah gelap dan merata, pasti hujannya merata. Tapi semua meleset, di wilayah tempat tinggal saya sama sekali tidak hujan, kering sama sekali. Dengan legawa saya menerima kekalahan. Sambil melepas jas hujan, saya berpikir berkata dalam hati, "Ya Tuhan engakau satu2nya yang paling berkuasa atas turun tidaknya hujan sedangkan aku hanya bisa memilih mengenaakan jas hujan atau tidak".
Pesan moral, jangan pernah menebak apa yang akan diputuskan Tuhan atas kamu, tapi memohonlah apa yang kita inginkan

Sabtu, 08 November 2014

Guyonan Orang Desa

"di panidi ojo lewat dhisik to, engko udan lho", tegur Jasemi pada Panidi.
"walah....mosok ngono to yu..."
"wong lewat ae kok marakno iso udan", jawab Panidi datar agak kurang paham dengan maksud Jasemi.
"awit winginane tak titeni, angger kowe liwat, mendhunge langsung peteng, repet2 terus udan", Jasemi menerangkan maksudnya.
"oooalaa...yu yu opo aku iki moloikat opo piye, kok iso nekakno udan", Panidi sedikit membela guyonan Jasemi.

Jasemi bermaksud menggoda Panidi yang hilir mudik setiap hari di depan rumahnya dengan bersepeda. Sedangkan Jasemi sedang mempunyai tanggungan menjemur padi sampai benar-benar kering sebelum di bawa ke tukang slep padi. Aktivitas biasa yang dilakukan orang-orang desa ketika musim panen padi. Setelah padi dipanen dari sawah di jemur dan harus ditunggui, dieker-eker biar keringnya merata, karena pada musim seperti ini biasanya sinar matahari mahal, belum genap jam dua belas siang sudah mendung dan hujan. Oleh karena itu menjemur padipun tidak bisa dianggap remeh, harus fokus nungguin padi supaya keringnya maksimal. Hal itulah yang membuat Jasemi tidak bisa meninggalkan padinya begitu saja, setiap satu jam harus dieker-eker, dijaga biar tidak dienjah-enjah kambing, tidak dicucuki ayam, dan yang pasti tidak kehujanan. Hal terakhir itulah yang membuat Jasemi jengkel, karena tiga hari terkahir selalu hujan sebelum tengah hari, dan selalu dengan didahului oleh lewatnya Panidi di depan rumah.

Seorang Pahlawan

Jo duduk disamping tempat tidur putrinya yang terbaring tak sadarkan diri. Putrinya, yang sudah bukan anak-anak lagi mengalami tindak kekerasan dari sekelompok orang yang berniat jahat kepadanya. Ia berusaha melawan sekuat tenaga meskipun harus berhadapan dengan sejumlah laki-laki kasar dan beringas. Beruntung ayahnya - Jo - segera datang dan menyelamatkannya. Meskipun demikian ia harus mengalami luka-luka dan cedera di beberapa bagian tubuh yang lumayan parah serta tak sadarkan diri. Beberapa kawan ayahnya segera membawa ke rumah sakit, dan Jo berusaha mengejar kawanan penjahat tersebut.

Jo adalah seorang detektif dari lembaga kepolisian. Sudah menjadi tugasnya sehari-hari untuk menyelidiki, mencari informasi dan menangkap penjahat. Karena tugasnya yang berat - polisi yang sangat berdedikasi ini - Jo tidak mempunyai banyak waktu untuk keluarga. Putri satu-satunya sejak kecil sering ditinggalkan, demikian halnya istrinya yang setia, jarang punya waktu luang untuk berbincang-dan berdiskusi berbagai hal termasuk tentang masa depan diri dan keluarganya. Meskipun demikian ia selalu mendapati keluarganya selalu dalam keadaan baik baik. Setiap ia pergi dari rumah, maupun ketika pulang ke rumah yang selalu ia temui  istri dan anak-anaknya selalu baik baik saja.

Hingga suatu hari putrinya menjadi sasaran kejahatan, imbas dari profesi ayahnya. Beruntung Jo berhasil mengendus niat para penjahat tersebut dan menggagalkanya, meskipun harus dibayar dengan derita fisik yang dialami putrinya. Saat itu menjadi kesempatan - momentum yang tepat - bagi Jo untuk menyadari betapa penting arti sebuah keluarga, betapa berharganya seorang anak, betapa mulianya seorang istri. Jo berjanji tidak akan membiarkan anak dan istrinya mendapatkan bahaya. Untuk menegaskan komitmennya tersebut Jo menungggui anaknya yang masih belum pulih dari ketidaksadarannya hampir sepanjang malam. Ia ingin memastikan ketika anaknya terbangun dirinyalah yang dilihat petama kali, sehingga putrinya merasa aman.

Jo seorang polis yang baik, seorang detektif yang berprestasi, dia selalu bekerja dengan tangkas sesuai prosedur. Secara karir Jo tidak mengecewakan dan dia tidak merasa ada kekurangan, dia merasakan hal itu. Tetapi saat ini dia merasakan memiliki banyak kekurangan, terutama di hadapan anak dan istrinya. Dia merasa dirinya seorang yang sangat lemah justru di hadapan dua makhluk wanita yang lemah. Jo melihat betapa istri dan anaknya adalah sosok manusia yang tangguh, yang tabah dan sabar. Jo tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa memandangi saja bergantian antara istrinya dan anaknya. Beberapa kali istrinya menenangkannya dengan mengatakan, 
"sudahlah Jo kami tidak apa-apa, kamu tetaplah seorang ayah yang baik",
"kamu tetaplah pahlawan bagi keluarga ini",
"tenangkan dirimu, tetap laksanakan tugasmu".
 Setiap kata-kata yang keluar dari bibir istrinya hanya dibalas dengan tetesan air mata. Jo tidak habis pikir dalam keadaan yang berat seperti ini, istrinya masih mampu membesarkan hatinya, sedangkan dia sendiri seperti remuk jiwanya. Jo yang selalu perkasa dalam melawan setiap penjahat, malam itu menjadi sosok yang sangat rapuh dan tidak berdaya. Satu-satunya kekuatan yang mampu menopang badannya yang sudah hampir 60 tahun itu adalah kekuatan dari istrinya yang setia, dan putrinya yang masih lelap dalam ketidaksadaran diri.